MAKNA DAN NILAI DARI TARIAN PERANG (SBO’OT MAEKAT) PADA MASYARAKAT SUKU DAWAN DI DESA TUMU KECAMATAN AMANUBAN TENGAH KABUPATEN TIMOR TENGAH

Authors

  • Irianti Tse Universitas Persatuan Guru 1945 NTT
  • Moses Kollo Universitas Persatuan Guru 1945 NTT
  • Diana Rohi Universitas Persatuan Guru 1945 NTT

Abstract

Masalah pada penelitian ini adalah Bagaimana makna simbolis yang terkandung dalam gerakan, properti (pedang/parang), kostum, dan iringan musik dalam tarian perang (sbo’ot maekat) pada masyarakat Suku Dawan di Desa Tumu Kecamatan Amanuban Tengah Kabupaten Timor Tengah Selatan, Apa saja nilai-nilai filosofis, etika dan sosiokultural yang di refleksikan dan diwariskan melalui Tarian Perang (Sbo’ot Maekat) bagi masyarakat Suku Dawan di Desa Tumu Kecamatan Amanuban Tengah Kabupaten Timor Tengah Selatan, Bagaimana fungsi dan peran Tarian Perang (Sbo’ot Maekat) masih bertahan atau telah bergeser dalam konteks kehidupan sosial budaya masyarakat suku dawan di Desa Tumu Kecamatan Amanuban Tengah Kabupaten Timor Tengah Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna simbolis, mengidentifikasikan nilai filosofis, dan menganalisis dan mendeskripsikan perubahan fungsi dan peran. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah etnografi, yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan menginterpretasikan budaya, perilaku sosial, dan sistem nilai sesuai kelompok masyarakat. Sumber data yang digunakan penelitian ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder yang didapatkan melalui wawancara, observasi, studi pustaka dan studi dokumen. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tarian perang (sbo’ot maekat) merupakan manifestasi fisik dan nilai kepahlawanan, harga diri, dan hubungan sacral dengan leluhur. Makna simbolis tarian ini tercermin melalui hentakan kaki sebagai simbol keteguhan hati para Meo, properti pedang (suni) yang melambangkan kedaulatan dan kehormatan laki-laki, kostum adat sebagai identitas martabat, dan iringan gong sebagai pemberi komando spiritual. Secara filosofis tarian ini merangkul nilai keberanian, nilai solidaritas, etika perhormatan serta kebersamaan melalui prinsip nekaf mese ansaof mese. Tarian ini untuk menyambut pahlawan dari medang perang, fungsi dan perangnya telah bergeser menjadi sarana seremonial.

References

Boas, F. (1955). Primitive Art. New York: Dover Publications. (Untuk teori ekspresi seni dalam budaya primitif/tradisional).

Gazalba, S. (1981). Pengantar Kebudayaan Sebagai Ilmu. Jakarta: Pustaka

Hendropuspito, J. (1989). Sosiologi Sistematik. Yogyakarta: Kanisius.

Jazuli, M. (2008). Paradigma Kontekstual Pendidikan Seni: UNNES University Press.(1994).

Telaah Teoritis Seni Tari. Semarang: IKIP Semarang Press.

Koentjaraningrat.(1985). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru (1990). Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta. (2002).Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Mahjunir, H.(1967). Mengenal Pokok-Pokok Antropologi dan Kebudayaan. Jakarta: Bharata.

Meleong, L.J. (2007). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya (2017).

Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: Remja Rosdakarya

Miles, M.B., dan Huberman, A.M. (1994). Qualitative Data Analysis. Thousand Oaks: Sage Publications.

Muryanto.(2018). Mengenal Seni Tari Indonesia. Semarang: PT. Bengawan Ilmu.

Patton. M. Q (2002). Qualitative Research and Evaluation Methods. Thousand Oaks: Sage Publications.

Satori, D. dan Komariah, A. (2012). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta. Sedyawati, E. (1981). Pertumbuhan Seni Pertunjukan. Jakarta: Sinar Harapan.

Sairin, S. (2002).Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia. Yogyakarta: PT. Pustaka Pelajar.

Soedarsono, R. M (1986).Pengantar Pengetahuan Tari dan Komposisi dalam pengetahuan

Elementer Tari dan Beberapa Maslah Tari. Jakarta: Direktorat Kesenian Proyek

Pengembangan Kesenian Jakarta.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1998). Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (2002). Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Perss.

Soekanto, S. (1990). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,dan R&D).Bandung: CV Alfabeta.

Turner, V. (1969). The Ritual Process: Structure and Anti-Structure. Chicago: Aldine Publishing. (Untuk membedah makna simbolis dan ritual tarian perang).

Zed, M. (2008). Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Downloads

Published

2026-05-30

How to Cite

Tse, I., Kollo, M., & Rohi, D. (2026). MAKNA DAN NILAI DARI TARIAN PERANG (SBO’OT MAEKAT) PADA MASYARAKAT SUKU DAWAN DI DESA TUMU KECAMATAN AMANUBAN TENGAH KABUPATEN TIMOR TENGAH. Jurnal Sport & Science 45, 8(1), 345–351. Retrieved from https://ejournal.upg45ntt.ac.id/jss/article/view/768